<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-271144253079039236</id><updated>2011-04-22T05:34:36.219+07:00</updated><title type='text'>Benny Ridwan dan Filsafatnya</title><subtitle type='html'>Blog ini untuk berbagi kebijaksanaan, wisdom, kearifan dan pengetahuan... selama bumi berputar perbedaan tak pernah pudar. ...... 
Jangan sedih tidak bisa beli sepatu sebelum melihat ada orang yang tidak punya kaki...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bennyridwan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennyridwan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Benny Ridwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01959573832046988865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_9DSQVY2Udv8/R7UPGtMsbuI/AAAAAAAAAA4/pb91sRJmBIg/S220/bung+ben.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-271144253079039236.post-6654918298683960378</id><published>2008-02-19T14:10:00.001+07:00</published><updated>2008-02-19T14:12:40.460+07:00</updated><title type='text'>Pengantar Filsafat Ilmu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;A. Mengenal Dunia Filsafat&lt;br /&gt;Berfilsafat&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; adalah upaya dari segenap potensi diri manusia untuk mencintai kebenaran dan sekaligus menjadikan kebenaran itu sebagai kebijaksanaan bagi dirinya dan masyarakatnya. Kebenaran dalam filsafat lebih jauh dapat berwujud dalam bentuk kebenaran akan pemikiran, kebenaran akan perkataan dan kebenaran akan perbuatan. Dari usia filsafat yang telah mencapai 26 abad &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;, menandaskan bahwa filsafat bukan saja sekumpulan dari agregat pemikiran manusia yang kering dari perdebatan, tapi juga saling meruntuhkan, dukung mendukung, berkelanjutan atau bahkan memberi warna kebaruan. Ada 3 aliran besar utama yang mengawali pertumbuhan filsafat dimana manusia mulai membicarakan apa itu alam, apa itu Tuhan, sampai apa itu manusia ? Dari ketiga aliran besar ini, sekarang muncul segudang wacana yang diangkat oleh filsafat kepermukaan untuk dipertanyakan tanpa batas yang tidak berhingga. Mulai dari yang namanya kesadaran, roh, akal manusia, kematian, kehidupan, pancaindra, bahasa, elan vital, cinta dan seterusnya.&lt;br /&gt;Intinya, Filsafat adalah ikhtiar manusia untuk memahami berbagai manifestasi kenyataan melalui upaya berfikir sistematis, kritis dan radikal.&lt;br /&gt;Sistematis       artinya (systema = keteraturan, tatanan, saling keterkaitan)&lt;br /&gt;Kritis               artinya (kritikos = kemampuan menilai, memilah-milah)&lt;br /&gt;Radikal           artinya (Radix = akar)&lt;br /&gt;Dengan kata lain , filsafat ditandai oleh proses berfikir yang teratur sambil menilai sesuatu hal secara mendasar. Tidak semua proses berpikir ditandai oleh ketiga ciri tersebut. Kita berpikir memecahkan sesuatu hitungan, tetapi bukan berfilsafat tentang hitungan itu; kita dapat berpikir sewaktu memilih mana diantara sejumlah peralatan yang tinggi nilai kegunaannya; dalam hal ini pun kita tidak berfilsafat; dan banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa tidak semua proses berpikir adalah berfilsafat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;            Melalui proses berpikir yang sistematis dan kritis serta radikal, filsafat bertujuan memperoleh wawasan (insight) yang makin jelas tentang berbagai gejala, baik yang tampil sebagai fakta belaka ataupun yang berlangsung sebagai rangkaian peristiwa. Ini tidak berarti bahwa filsafat berhenti pada usaha pemahaman mengenai berbagai gejala tersebut secara kasuistik. Sebagai kasus yang tunggal (individual, particular) masing-masing gejala itu merupakan perantara untuk melakukan kegiatan berikutnya, yaitu pengamatan (observation) lebih lanjut yang memungkinkan pendekatan debat penalaran (reason) serta penafsiran (interpretation), sehingga memungkinkan dirumuskan kesimpulan yang berlaku umum (general, universal).&lt;br /&gt;Tidak semua gejala segera dapat dipahami melalui penalaran; berbagai segi yang melatari tampilnya sesuatu gejala seringkali cenderung ditafsirkan melalui pemikiran berdasarkan dugaan-dugaan yang bertolak dari sesuatu asas apriori dan bersifat spekulatif (Latin: speculari = mengamat-amati, speculum = menara pengamat). Misalnya, pemikiran yang beranjak pada asas nihil ex nihilo tentu beranggapan bahwa tidak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan; mustahil apa yang ada lahir dari kehampaan; dengan kata lain, mesti ada sesuatu di balik apa yang ada. Mesti ada sesuatu (daya) dibalik lautan yang bergelombang, atau dibalik gunung yang meletus, atau halilintar yang menyambar, dan sebagainya. Pendek kata, meski ada sesuatu di balik apa yang ada dan teramati secara fisik. Dari cara pemikiran yang spekulatif itu muncullah ragam filsafat yang disebut metafisika, yaitu pemikiran yang berusaha menjangkau apa yang (mungkin) ada di balik sesuatu penampilan yang fisik. Metafisika boleh dianggap merupakan ragam berfilsafat yang tertua dan berkembang sebagai kegitan perenungan yang cenderung mendekat pda sistem kepercayaan.&lt;br /&gt;Karena tidak segala sesuatu terjawab dengan pasti melalui pemikiran metafisika, maka berkembang pula dugaan tentang masih adanya sesuatu rahasia (mysterion, mysterium, mystery) di balik segala kenyataan yang tampak; rahasia itu sulit ditangkap melalui pemikiran metafisika belaka, melainkan harus ditempuh melalui perenungan dan penghayatan akan adanya sesuatu yang tetap gaib; betapapun paradoksal kedengarannya --ada tapi gaib-- segala rahasia itu tidak bisa diabaikan sebagai sumber pengaruh pada kenyataan sebagaimana tampilnya. Perenungan berbagai peristiwa ‘rahasia di balik-kenyataan’ sedemikian itu disebut mistik yang sebagaimana metafisika tidak didasarkan pada penalaran melainkan lebih bersifat spekulasi. Oleh karena itu menekankan tentang adanya sesuatu yang rahasia dan gaib, maka tidak jarang dalam mistik berbagai citra (image) berkembang sebagai kultus dan mitos yang diterima dan mungkin diuji dengan penalarannya (beyond reason).&lt;br /&gt;Berbeda dengan spekulasi, penalaran adalah proses berpikir yang teratur dan terarah secara progresif menuju pada suatu akhir (finality); teratur, karena penalaran harus mengikuti tertib (order) atau bagan (scheme) tertentu; terarah karena panalaran bergerak maju menuju tercapainya suatu penyimpulan sebagai tahap akhirnya. Penalaran berlangsung sebagai proses yang mengikuti tertib atau bagan berpikr tertentu, seperti misalnya silogisme, analogisme, teologisme, determinisme kausal, dan sebagainya. Penalaran berlangsung sebagai proses berpikir dengan logika sebagai modus dasarnya. Maka ujian pertama terhadap upaya penalaran ialah sejauh mana prosesnya dikendalikan oleh logika; dengan kata lain, logika mengendalikan disiplin dalam proses penalaran.&lt;br /&gt;Karena penalaran selalu mempunyai tujuan (intention) untuk sampai pada dirumuskannya penyimpulan (concluding statement), maka sejak awalnya proses penalaran berlangsung dengan antisipasi pada tercapainya suatu tahap terminal. Ini jelas berbeda dengan khayalan (imagination) yang tidak perlu menuju pada sesuatu penyelesaian; sebaliknya; khayalan berlangsung sebagai proses yang tidak terkendali bahkan mungkin sekali selama berlangsung makin kembang dan membias. Melalui kegiatan penalaran inilah filsafat berusaha untuk menemukan adanya berbagai keteraturan (regularities), dalil (rules), hukum (laws), dan asas (principles) yang teramati melalui penampilan berbagai fakta dan peristiwa.&lt;br /&gt;Begitulah maka pada awal sejarahnya kegiatan para filsuf. Dalam periode itu mungkin sekali terjadi perbedaan--bahkan pertentangan--pendapat antara kedua golongan pendekatan tersebut. Hal ini terjadi karena golongan pendekatan penalaran selalu menuntut argumentasi yang berdasarkan logika atas segala penyimpulan yang dilakukan golongan spekulasi. Golongan penalaran cenderung beranggapan bahwa golongan spekulasi melompat pada penyimpulan tertentu manakala mereka terhadang oleh sesuatu yang masih gelap (obscure) dan tidak mampu menerangkannya. Sebaliknya, golongan spekulasi menganggap keliru untuk menilai dan menafsirkan segala gejala berdasarkan fungsi rasional belaka. Berbagai daya yang melatari kenyataan tidak mungkin ditangkap oleh fungsi rasional belaka. Manusia tidak saja hidup dalam dunia serba kenyataan, melainkan juga dalam dunia serba kemungkinan, dan dunia kemungkinan itu hanya bisa didekati melalui spekulasi. Sebagai konsekuensinya, maka dunia manusia tidak hanya terdiri dari fakta (fact) yang diamatinya belaka, melainkan juga atas citra (image) yang dibayangkannya pula. Maka selain berbagai fakta ynag teramati, dunia manusia juga dibangun oleh berbagai citra yang terbayangkan olehnya.&lt;br /&gt;Kenyataan yang paling mendasar ialah berkenaan dengan kesadaran ruang dan waktu. Setiap gejala hadir dalam suatu ruang dan waktu (space and time). Segala yang ada selalu hadir di suatu tempat dan dalam suatu masa. Keistimewaan pada manusia ialah bahwa ia bisa melepaskan diri dari keterikatan pada kenyataan bahwa dia sedang berada ‘di sini-dan-kini’ (here-and-now), dan memasuki apa yang masih ‘di sana-dan-nanti’ (there-and-then); manusia bisa melakukan transendensi terhadap kenyataannya sedang berada ‘di sini-dan-kini’; kesanggupan melakukan transendensi inilah menjadikan dunia manusia sebagai dunia serba kemungkinan. Inilah arti ungkapan ‘man transcends the real into the possible’.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dunia manusia bukan saja terdiri dari apa yang nyatanya ada (being), melainkan juga yang belum nyata adanya; sedangkan yang belum nyata ada berarti masih tidak ada (non-being). Inilah yang membuat sejumlah filsuf Yunani kuno masa pra-Sokrates banyak menyibukkan diri dengan spekulasi metafisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Terminologi&lt;br /&gt;Memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam kata "filsafat" adalah suatu pekerjaan yang terlalu berani dan sombong! Saya ingin mulai dari sini. Memang, para peminat filsafat, kita sulit mendefinisikan kata yang satu ini. Bahkan para filsuf (ahli filsafat) pun mengakuinya. Apa yang membuatnya demikian adalah oleh karena terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut, ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Namun, sebuah pengertian awal mesti diberikan; maksudnya sebagai kompas agar kita tidak tersesat arah di dalam perjalanan memahami filsafat. Mengingat maksud ini, maka pengertian tersebut haruslah bersifat dapat dipahami sebanyak-banyak orang, sehingga dapat dijadikan tempat berpijak bersama.&lt;br /&gt;Baiklah kita menilik dahulu kata "filsafat" ini dari akar katanya, dari mana kata ini datang. Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya "cinta akan kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.&lt;br /&gt;Dari arti di atas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum. Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat, "Ilmu tentang hakikat". Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan "ilmu (spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi soalnya dengan pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya". Filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat dipecahkan dengan ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int. Dict.). Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana". Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke mana tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, "Mengapa A percaya akan Allah", mereka tidak akan menjawab, "Karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah," atau "Karena A kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya tenteram." Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut Sokrates (470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan.&lt;br /&gt;Sampai dengan kedua pengertian di atas, marilah kita simak apa kata Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang "filsafat":&lt;br /&gt;·         Filsafat adalah berpikir secara kritis.&lt;br /&gt;·         Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.&lt;br /&gt;·         Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut.&lt;br /&gt;·         Filsafat adalah berpikir secara rasional.&lt;br /&gt;·         Filsafat harus bersifat komprehensif.&lt;br /&gt;Kemudian Windelband, seperti dikutip Hatta dalam pendahuluan Alam Pikiran Yunani, "Filsafat sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata."&lt;br /&gt;Demikian kata Magnis, "Filsafat sebagai usaha tertib, metodis, yang dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan apa yang sebetulnya diharapkan dari setiap orang yang tidak hanya mau membebek saja, yang tidak hanya mau menelan mentah-mentah apa yang sudah dikunyah sebelumnya oleh pihak-pihak lain. Yaitu untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan dalam pengalaman sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu. Filsafat sebagai latihan untuk belajar mengambil sikap, mengukur bobot dari segala macam pandangan yang dari pelbagai penjuru ditawarkan kepada kita. Kalau kita disuruh membangun masyarakat, filsafat akan membuka implikasi suatu pembangunan yang misalnya hanya mementingkan kerohanian sebagai ideologi karena manusia itu memang bukan hanya rohani saja. Atau, kalau pembangunan hanya material dan hanya mengenai prasarana-prasarana fisik saja, filsafat akan bertanya sejauh mana pembangunan itu akan menambah harapan manusia kongkrit dalam masyarakat untuk merasa bahagia. Dan kalau pelbagai otoritas dalam masyarakat mau mewajibkan sesuatu kepada kita, filsafat dapat membantu kita dalam mengambil sikap yang dewasa dengan mempersoalkan hak dan batas mereka untuk mewajibkan sesuatu. Terhadap ideologi kemajuan akan dipersoalkan apa arti maju bagi manusia. Atau orang yang mau mengekang kebebasan kita atas nama Tuhan yang Mahaesa, filsafat akan menarik perhatian kita pada fakta bahwa yang mau mengekang itu hanyalah manusia saja yang mengatasnamakan Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak pernah identik dengan suara manusia begitu saja. Dan kalau suatu rezim fanatik mau membawahkan segala nilai pada kemegahan negara saja, filsafat dapat saja menunjuk pada seorang filsuf yang dua ribu tahun yang lalu telah berpikir ke arah itu, yaitu Plato, dan bagaimana dia dilawan oleh seorang filsuf lain jaman itu, Aristoteles" (Franz Magnis-Suseno, Berfilsafat Dari Konteks, Jakarta, Gramedia, 1999).&lt;br /&gt;Untuk menutup pemahaman awal kita mengenai terminologi "filsafat", baiklah dicatat nuansa perbedaan arti "filsafat" dengan istilah-istilah yang hampir serupa dengan ini, yakni "falsafah", "falsafi" atau "filsafati", "berpikir filosofis" dan "mempunyai filsafat hidup" yang sering kita dengar, kita baca, atau bahkan mungkin kita pakai dalam hidup keseharian kita. "Falsafah" itu tidak lain filsafat itu sendiri. "Falsafi" atau "filsafati" artinya: "bersifat sesuai dengan kaidah-kaidah filsafat". "Berpikir filosofis", sesungguhnya begini: berpikir dengan dasar cinta akan kebijaksanaan. Bijaksana adalah sifat manusia yang muncul sebagai hasil dari usahanya untuk berpikir benar dan berkehendak baik. Berpikir benar saja ternyata belum mencukupi. Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah tindakan yang jahat. Tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun diketahuinya itu jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya. Cara berpikir yang filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan antara keduanya, berpikir benar dan berkehendak baik. Sedangkan, "mempunyai filsafat hidup" mempunyai pengertian yang lain sama sekali dengan pengertian "filsafat" yang pertama. Ia bisa diartikan mempunyai suatu pandangan, seperangkat pedoman hidup atau nilai-nilai tertentu. Misalnya, seseorang mungkin mempunyai filsafat bahwa "tujuan menghalalkan cara".&lt;br /&gt;Sekarang kita melangkah untuk melihat lebih dekat tentang hubungan antara filsafat, ilmu dan agama. Masalah tentang hubungan antara ketiganya adalah suatu masalah yang sering dipersoalkan. Ada yang menyatakan pendapat bahwa filsafat hendak menyaingi sains dan agama, demikian pula sebaliknya. Akhirnya, terjadi saling curiga mencurigai antara ketiganya, yang tak jarang merugikan bagi kepentingan pencarian akan kebenaran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Relasi Filsafat, Ilmu dan Agama&lt;br /&gt;Sudah diuraikan di atas bahwa yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran. Demikian pula ilmu. Agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut agama adalah "kebenaran wahyu". Kita tidak akan berusaha mencari mana yang benar atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita akan melihat apakah keduanya dapat hidup berdampingan secara damai,  apakah keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling bermusuhan satu sama lain. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu juga bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda, baik di dalam filsafat maupun di dalam ilmu. Demikian pula terdapat bermacam-macam agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Bagaimana mencari hubungan antara ilmu, filsafat dan agama akan diperlihatkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Perhatikan ilustrasi ini. Jika seseorang melihat sesuatu kemudian mengatakan tentang sesuatu tersebut, dikatakan ia telah mempunyai pengetahuan mengenai sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar di dalam pikiran kita. Misalnya, ia melihat manusia, kemudian mengatakan itu adalah manusia. Ini berarti ia telah mempunyai pengetahuan tentang manusia. Jika ia meneruskan bertanya lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang manusia, misalnya: dari mana asalnya, bagaimana susunannya, ke mana tujuannya, dan sebagainya, akan diperoleh jawaban yang lebih terperinci mengenai manusia tersebut. Jika titik beratnya ditekankan kepada susunan tubuh manusia, jawabannya akan berupa ilmu tentang manusia dilihat dari susunan tubuhnya atau antropologi fisik. Jika ditekankan pada hasil karya manusia atau kebudayaannnya, jawabannya akan berupa ilmu manusia dilihat dari kebudayaannya atau antropologi budaya. Jika ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, jawabannya akan berupa ilmu manusia dilihat dari hubungan sosialnya atau antropologi sosial.&lt;br /&gt;Dari contoh di atas nampak bahwa pengetahuan yang telah disusun atau disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui kebenarannya adalah ilmu. Dalam hal di atas, ilmu tentang manusia.&lt;br /&gt;Selanjutnya, jika seseorang masih bertanya terus mengenai apa manusia itu atau apa hakikat manusia itu, maka jawabannya akan berupa suatu "filsafat". Dalam hal ini yang dikemukakan bukan lagi susunan tubuhnya, kebudayaannya dan hubungannya dengan sesama manusia, akan tetapi hakikat manusia yang ada di balik tubuh, kebudayaan dan hubungan tadi. Alm. Anton Bakker, dosen Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada menggunakan istilah "antropologi metafisik" untuk memberi nama kepada macam filsafat ini. Jawaban yang dikemukan bermacam-macam antara lain:&lt;br /&gt;·         Monisme, yang berpendapat manusia terdiri dari satu asas. Jenis asas ini juga bermacam-macam, misalnya jiwa, materi, atom, dan sebagainya. Hal ini menimbulkan aliran spiritualisme, materialisme, atomisme.&lt;br /&gt;·         Dualisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua asas yang masing-masing tidak berhubungan satu sama lain, misalnya jiwa-raga. Antara jiwa dan raga tidak terdapat hubungan.&lt;br /&gt;·         Triadisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tiga asas, misalnya badan, jiwa dan roh.&lt;br /&gt;·         Pluralisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri dari banyak asas, misalnya api, udara, air dan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ada beberapa pernyataan mengenai manusia yang dapat digolongkan sebagai bernilai filsafati. Misalnya:&lt;br /&gt;·         Aristoteles:&lt;br /&gt;·         Manusia adalah animal rationale.&lt;br /&gt;·         Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan: Benda mati -&gt; tumbuhan -&gt; binatang -&gt; manusia&lt;br /&gt;·         Tumbuhan = benda mati + hidup ----&gt; tumbuhan memiliki jiwa hidup&lt;br /&gt;·         Binatang = benda mati + hidup + perasaan ----&gt; binatang memiliki jiwa perasaan&lt;br /&gt;·         Manusia = benda mati + hidup + akal ----&gt; manusia memiliki jiwa rasional&lt;br /&gt;·         Manusia adalah zoon poolitikon, makhluk sosial.&lt;br /&gt;·         Manusia adalah "makhluk hylemorfik", terdiri atas materi dan bentuk-bentuk&lt;br /&gt;·         Ernest Cassirer: manusia adalah animal simbolikum Manusia ialah binatang yang mengenal simbol, misalnya adat-istiadat, kepercayaan, bahasa. Inilah kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya mengenal tanda dan bukan simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah disebutkan beberapa contoh mengenai bentuk jawaban yang berupa filsafat. Dari contoh tersebut, filsafat adalah pendalaman lebih lanjut dari ilmu (Hasil pengkajian filsafat selanjutnya menjadi dasar bagi eksistensi ilmu). Di sinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan akalnya ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam lagi mengenai manusia. Dengan akalnya, manusia hanya mampu memberi jawaban dalam batas-batas tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Immanuel Kant dalam Kritiknya terhadap rasio yang murni, yaitu manusia hanya dapat mengenal fenomena belaka, sedang bagaimana nomena-nya ia tidak tahu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang dapat menjawab pertanyaan lebih lanjut mengenai manusia adalah agama; misalnya, tentang pengalaman apa yang akan dijalani setelah seseorang meninggal dunia. Jadi, sesungguhnya filsafat tidak hendak menyaingi agama. Filsafat tidak hendak menambahkan suatu kepercayaan baru. Bertrand Russel mencatat August Comte pernah mencobanya, namun ia gagal. "Dan ia patut bernasib demikian," demikian Russel.&lt;br /&gt;Selanjutnya, filsafat dan ilmu juga dapat mempunyai hubungan yang baik dengan agama. Filsafat dan ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia. Filsafat membantu agama dalam mengartikan (menginterpretasikan) teks-teks sucinya. Filsafat membantu dalam memastikan arti objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan metode-metode pemikiran untuk teologi. Filsafat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah baru. Misalnya, mengusahakan mendapat anak dengan in vitro fertilization ("bayi tabung") dapat dibenarkan bagi orang Kristen atau tidak? Padahal Kitab Suci diam seribu bahasa tentang bayi tabung. Filsafatlah, dalam hal ini etika, yang dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa sehingga agama dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitasnya sendiri.&lt;br /&gt;Sebaliknya, agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat dijangkau dan dijawab oleh ilmu dan filsafat. Meskipun demikian, tidak juga berarti bahwa agama adalah di luar rasio, agama adalah tidak rasional. Agama bahkan mendorong agar manusia memiliki sikap hidup yang rasional: bagaimana manusia menjadi manusia yang dinamis, yang senantiasa bergerak, yang tak cepat puas dengan perolehan yang sudah ada di tangannya, untuk lebih mengerti kebenaran, untuk lebih mencintai kebaikan, dan lebih berusaha agar cinta Allah kepadanya dapat menjadi dasar cintanya kepada sesama sehingga bersama-sama manusia yang lain mampu membangun dunia ini.&lt;br /&gt;Dengan cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka antara ilmu dan filsafat serta agama dapat terjalin hubungan yang harmonis dan saling mendukung. Karena, semakin jelas pula bahwa seringkali pertanyaan, fakta atau realita yang dihadapi seseorang adalah hal yang sama, namun dapat dijawab secara berbeda sesuai dengan proporsi yang dimiliki masing-masing bidang kajian, baik itu ilmu, filsafat maupun agama. Ketiganya dapat saling menunjang dalam menyelesaikan persoalan yang timbul dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Demikianlah pemahaman yang kita miliki sekarang mengenai terminologi "filsafat" dan kedudukannya di antara ilmu dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Saya memilih dalam bentuk kata kerja karena terdapat upaya-upaya yang secara sistematis dalam satuan gugus pandangan pemikiran manusia&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;Dari sekumpulan para filosof alam masa Thales (600 tahun SM) sampai pemikiran Postmodernisme Jean Francois Lyotard, Derrida, sampai Facaoult dipenghujung abad 20 ini.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=271144253079039236#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Fuad Hasan, Pengantar Filsafat Barat, Pustaka Jaya, Jakarta, 1996, hlm. 9&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/271144253079039236-6654918298683960378?l=bennyridwan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennyridwan.blogspot.com/feeds/6654918298683960378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=271144253079039236&amp;postID=6654918298683960378' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/6654918298683960378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/6654918298683960378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennyridwan.blogspot.com/2008/02/pengantar-filsafat-ilmu.html' title='Pengantar Filsafat Ilmu'/><author><name>Benny Ridwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01959573832046988865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_9DSQVY2Udv8/R7UPGtMsbuI/AAAAAAAAAA4/pb91sRJmBIg/S220/bung+ben.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-271144253079039236.post-3407798830640888668</id><published>2008-02-05T13:16:00.000+07:00</published><updated>2008-02-05T13:28:52.087+07:00</updated><title type='text'>Tentang Kitab Suci</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6gB2lPuEBI/AAAAAAAAAAw/D1AS-y5XOD0/s1600-h/kitab.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163379010002882578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6gB2lPuEBI/AAAAAAAAAAw/D1AS-y5XOD0/s200/kitab.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agama adalah semesta kehidupan untuk dihayati. Disamping sebagai sebuah wadah, ekspresi, dan manifestasi pencarian makna hidup manusia melalui aktualisasi kemanusiaannya. Keberagamaan semacam ini tidak berarti hukum, pesan moral, dan inspirasi pengetahuan dalam kitab sucinya ditinggalkan, melainkan justru akan dilihat dengan cara baru yaitu sebagai formula-formula yang menawarkan pencerahan dan pembebasan. Kitab suci tidak dilihat lagi sebagai himpunan perintah dan larangan yang tidak dapat ditawar dan ditafsir ulang kembali. Bagaimana kita melihat kembali kitab suci kita sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran kitab suci ditengah umatnya bagaikan representasi dari kehadiran Tuhan untuk selalu menyertai Nya dan kitab suci tentunya membuka diri untuk diajak dialog mencari pemecahan atas persoalan hidup yang dihadapi umat manusia. Pergumulan yang sangat intens antara kitab suci (teks) dengan realitas sosial (konteks) butuh pemaknaan, dan penafsiran secara langsung. Kitab suci tentunya tidak sekedar dipahami dari segi gramatika dan keindahan bahasanya melainkan lebih dalam dan lebih kompleks lagi ialah pengalaman dan konsekskuensinya sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu kitab suci disadari atau tidak disadari sebagai pemicu manifesto gerakan sosial dimasanya untuk mewujudkan masyarakat yang egaliter, melawan hegemoni, mendorong perdamaian dan mengajak untuk berbuat baik. Bagaimana sekarang kitab suci diposisikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat demi ayat, surat demi surat ditafsirkan dengan ayat-ayat kehidupan. Proses penafsiran melalui upaya dan usaha dalam pergulatan panjang sejarah umat manusia. Penafsiran memerlukan intensitas dan tidak mudah untuk merekonstruksi kembali kejadian-kejadian, kisah-kisah masa lalu dalam kitab suci. Untuk itu perlu metodologi dan penafsiran ilmiah. Bagaimana kitab suci berhadapan dengan kemajuan-kemajuan science untuk melihat masa lalu agar dapat dimaknai oleh generasi sekarang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses terjemahan adalah usaha yang tidak dapat terelakkan ketika kitab suci harus dipahami oleh lintas wilayah, lintas bahasa dan lintas generasi. Namun upaya penterjemahan menghadapi kendala yang tidak sederhana. Problem memahami bahasa aslinya dan memaknai ulang dalam bahasa barunya membuat kitab suci cenderung terdistorsi. Mengingat setiap bahasa memiliki akar serta lingkungan kultural yang spesifik, maka kitab suci ketika diterjemahkan dapat dipastikan mengalami perubahan makna, baik perubahan itu bersifat pengembangan atau penyusutan. Apa upaya yang harus dilakukan dalam hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama, didapati ada sekelompok penganutnya memiliki pandangan yang mempercayai bahwa bahasa dalam kitab sucinya memiliki daya magis, kekuatan mantra, dan supranatural. Kekuatan magis tersebut digunakan untuk perobatan, penyembuhan, berhubungan dengan dunia lain dan sebagainya. Apakah ini tradisi atau usaha untuk melestarikan pemanfaatan kitab suci pada penganutnya atau justru upaya ini harus dilawan dengan dalih apapun. Anda setuju ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan sejarah, tantangan yang selalu dihadapi agama-agama sejak dulu, kini dan mendatang antara lain adalah bagaimana merusmuskan langkah konstruktif yang bersifat operasional untuk mendamaikan berbagai macam konflik serta pertikaian manusia dengan mengatasanamakan kitab suci. Usaha ini tidak hanya diarahkan pada hubungan antar pemeluk agama secara eksternal melainkan terlebih dahulu diarahkan pada hubungan internal umat beragama. Bagaimana menurut anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan antarpemeluk agama dengan semangat permusuhan dan kebencian selalu bermuka dua. Satu sisi sering dilihat sebagai bukti militansi dan bukti kesediaan berkurban demi cita luhur pemeluknya tetapi di sisi lain selalu saja dikutuk oleh semua umat beragama karena dinilai salah dalam mengemban misi agama yang selalu menyeru untuk perdamaian. Klaim pengkafiran terhadap teman seagama dan bahkan beda agama serta seruan untuk perang suci merupakan jargon retorik akibat krisis intelektual dalam memahami makna kitba suci yang luhur. Bagaimana mengatasi hal ini ? (br)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tor ini dapat saja anda setujui atau tidak dan dapat juga anda kembangkan. Berikan komentar Anda. terima kasih. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/271144253079039236-3407798830640888668?l=bennyridwan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennyridwan.blogspot.com/feeds/3407798830640888668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=271144253079039236&amp;postID=3407798830640888668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/3407798830640888668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/3407798830640888668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennyridwan.blogspot.com/2008/02/tentang-kitab-suci.html' title='Tentang Kitab Suci'/><author><name>Benny Ridwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01959573832046988865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_9DSQVY2Udv8/R7UPGtMsbuI/AAAAAAAAAA4/pb91sRJmBIg/S220/bung+ben.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6gB2lPuEBI/AAAAAAAAAAw/D1AS-y5XOD0/s72-c/kitab.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-271144253079039236.post-8622996495748414176</id><published>2008-02-04T12:59:00.000+07:00</published><updated>2008-02-04T13:09:27.559+07:00</updated><title type='text'>Dari Hifz al biah Sampai Green Investment</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6ar_VPuD_I/AAAAAAAAAAg/sU5D9bzpha8/s1600-h/sungai+babalan.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163003127350038514" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6ar_VPuD_I/AAAAAAAAAAg/sU5D9bzpha8/s200/sungai+babalan.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Environmental ethics interpreted as base of morality giving guidance for behavioral society or individual or choose good action in face of and attitude all something that relate to environment as unity of supporter of continuity of live and prosperity of mankind and also other mortal. Good Environmental ethics will be able to follow to make our behavior progressively wisdom and friendly to environment. On the contrary wrong ethics will create calamity for human life.&lt;br /&gt;As cause root of damage of environment this time is Mentality of frontier. Frontier Mentality is attitude which looking into that (1) world as unlimited resource to be used by human being. (2) That human being separated from nature and [is] not the part of itself nature. (3) Nature seen as something which must be subdued. From where we get mental attitude of frontier which that way ? Two especial source very influencing is, first: tendency from each organism to convert and master environment equal to possibly for the sake of self and clan of him: influence interpret religion teaching which tend to taught that earth along with its contents created special for need of human being and may be exploited for importance of human being according to his desire.&lt;br /&gt;Hence for that new ethics which must be developed by society these days is ethics sustainable namely caring to all which is ragawi [non involving], as God creation humanity, because depended human being to all existing. [Do] not only [at] of just humanity, but also to of ragawi, for no life without existence of God creation having the character of ragawi, like land, air and water. With environmental ethics not even make balance to rights with obligation to environment, but also limit effort and behavior to control various activity, [so that/ to be] remain to stay in boundary of equilibrium our environment.&lt;br /&gt;Then, how with Islam? Islam offer opportunity to comprehend Sunatullah and also affirm human being responsibility. Islam [do] not only teaching to take benefit of natural resources, but also teach rule of the game in the exploiting of for prosperity to with going concern as wanted entirety result (hifz al biah). Usage of resource the rareness or limited have to observe and protected. Understanding to protect environment is the part of materialization of religious service (ibadah). Mean understanding to protect environment will become parallel with other religious services which executed by Islam. In executing mentioned religious service, human being shoulder responsibility as khalifah under the sun, so that do deed of step the of require to reckon the impact of [at] life of universe content, fellow being and society.&lt;br /&gt;Thus, in perspective [of] Islam, form management of nature has to theology. Meaning, goals or result management of nature solely for have religious service [to] to God. Management of nature shouldn't bear impact which is will bear sins in the form of damage of environment which harming others. Management of nature by exploitation and regardless of importance of others, both for next generation or generation, is very big collision to religion. People who [do/conduct] him referred [as] with mufsidin ( [all] pests of earth). Al-Fasad, is damage deed [of] nature which the impact of felt [by] throng. Like deforestations wildly, throwing away garbage in place emit a stream of water him, or the other, affecting felt floods many people. For that need Green Invesment movement. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/271144253079039236-8622996495748414176?l=bennyridwan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bennyridwan.blogspot.com/feeds/8622996495748414176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=271144253079039236&amp;postID=8622996495748414176' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/8622996495748414176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/271144253079039236/posts/default/8622996495748414176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bennyridwan.blogspot.com/2008/02/dari-hifz-al-biah-sampai-green.html' title='Dari Hifz al biah Sampai Green Investment'/><author><name>Benny Ridwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01959573832046988865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_9DSQVY2Udv8/R7UPGtMsbuI/AAAAAAAAAA4/pb91sRJmBIg/S220/bung+ben.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9DSQVY2Udv8/R6ar_VPuD_I/AAAAAAAAAAg/sU5D9bzpha8/s72-c/sungai+babalan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
